Uncategorized

Eksplorasi Sumur Minyak Di Nagari Kolok Kota Sawahlunto

59
×

Eksplorasi Sumur Minyak Di Nagari Kolok Kota Sawahlunto

Sebarkan artikel ini
Sawahlunto, Tikalak.com – Sawahlunto merupakan salah satu kota yang terletak di dataran tinggi provinsi Sumatera Barat, dikenal sebagai kota tambang batubara yang ditemukan oleh Ir. De Greve tahun 1868 dengan jumlah cadangan mencapai kurang lebih 200 jt ton. Kemudian pada tahun 1899 – 1900, ilmuwan Belanda menemukan sumber cadangan minyak bumi yang kemudian dieksplorasi oleh “Muara Enim Maschapij” hingga tahun 1902.

Namun tak hanya batubara dan minyak, didaerah tersebut juga ditemukan kandungan mineral berharga lainnya yaitu emas. Lokasi ditemukannya kandungan logam mulia ini tepatnya berada di nagari Silungkang dengan jumlah cadangan 1,2 juta kubik kerikil/pasir emas yang dikelola oleh “Mijnbouw Maatschappij Siloengkang”.

Sedangkan bekas keberadaan dari pengeboran sumur minyak ini masih dapat ditemukan, yaitu berupa beberapa batangan pipa yang menyembul dari permukaan tanah berisi cairan berwarna hitam yang oleh warga sekitar sering diambil untuk meresidu perkayuan untuk kuda2 rumah dll.

Sementara bukti lainnya adalah foto yang kami temukan saat searching data/ dokumentasi tulisan maupun foto di situs National Museum Van Wereld Culturen ini.

Pada bingkai foto sebelah atas tertulis “Boortoren Te Kolok SWK. SWK dalam penulisan di jaman kolonial Belanda artinya adalah Sumatera Westkust / Pantai Barat Sumatera yang dikenal dengan Prov. Sumatera Barat saat ini.

Pada sumber foto juga terdapat keterangan : “Pada bingkai bagian dalam tutup kotak tempat slide ini disimpan, tertera pada foto 31: ‘Derrick di Pantai Barat Sumatera Kolok’

Foto ini menunjukkan anjungan pengeboran dengan sekelompok pria berdiri di bawah anjungan pengeboran.

Dari beberapa data tulisan yang kami temui, pada masa kolonial Belanda tepatnya antara tahun 1900 – 1902 di daerah Kolok, Sawahlunto, perusahaan “Muara Enim Maschapij” melakukan eksplorasi pengeboran minyak bumi pasca ditemukannya sumber cadangan minyak bumi oleh ilmuwan Belanda bernama Hooyer.

Namun aktivitas pengeboran sumur minyak tersebut dihentikan pada tahun 1902 karena diprediksi cadangannya tidak sesuai dengan harapan (tidak ada semburan minyak dari sumur2 yang digali)

Berikut beberapa tulisan dalam surat kabar Belanda yang memuat berita tentang eksplorasi sumur minyak di Kenagarian Kolok, Kecamatan Barangin, kota Sawahlunto:

1. Perkeretaapian negara di Sumatra.
Pagi ini chief engineer ” Delprat ” berangkat bersama insinyur ” IJzerman ” ke Sawahloento, untuk melakukan inspeksi dan dilanjutkan dengan pemeriksaan sumur minyak di kolok.
(Sumatra Courant, Sabtu 3 Februari 1900)

2. Nabij Sawah Loento…
Mr. Hooyer tanpa kenal lelah bekerja pada pengeboran minyak bumi yang berlokasi di daerah Kolok. Di sana telah ditemukan sumber cadangan minyak bumi.
(Soerabaiasch Handelsblad, Senin 23 September 1901)

3. Sumatra-bode.
Kegiatan eksplorasi oleh perusahaan “MuaraEnim Maschapij” diladang minyak Kolok dekat Sawahloento akan dihentikan karena tidak ada sumber semburan minyak yang dapat di temukan saat pengeboran.
(De Locomotief, zaterdag 28 desember 1901)

4. Minyak Bumi di Pantai Barat Sumatera
Atas perintah Dewan Manajemen Perminyakan. “Muara Enim Maschapij”, sumur pengeboran minyak di Kolok dekat Sawahloento dihentikan.

Tuan P. Hoijer, pembor, telah bekerja tanpa lelah melakukan explorasi sumur minyak yang nantinya di rencanakan akan di eksploitasi dalam skala besar terpaksa di hentikan. Dia memang menemukan minyak bumi di beberapa tempat, tetapi tidak ada sumber yang menyembur.

Rig pengeboran Kolok sekarang sedang dibongkar dan semua material yang ada akan dibawa ke Sawahloento, dari sana akan diangkut dengan kereta api ke Emmahaven dekat Padang dan dari sana melalui laut ke Palembang. Menurut “SumatrarBode” – Dari lembar mana detail ini diambil, dibutuhkan waktu hingga enam bulan sebelum semua bahan pengeboran yang berharga siap untuk dikirim.

Industri perminyakan di pantai Barat Sumatera terbukti gagal untuk sementara waktu. Uang yang dihabiskan oleh “MuaraEnim Maschapij ” tak menghasilkan sesuai dengan harapan.
(N. Ct)
(Het Faderland, Rabu, 7 Mei 1902)

*Marjafri – Founder Komunitas Anak Nagari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *