Uncategorized

Tingginya Harga Avtur Picu Tranportasi Udara Penyumbang Inflasi Tertinggi Bulan Lalu

42
×

Tingginya Harga Avtur Picu Tranportasi Udara Penyumbang Inflasi Tertinggi Bulan Lalu

Sebarkan artikel ini
inflasi
Padang Panjang, Tikalak.com – Tingginya harga avtur (bahan bakar penerbangan) menjadikan transportasi udara sebagai penyumbang inflasi tertinggi dibulan April lalu.

Hal ini disampaikan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, menyebutkan “Hal ini sudah kita laporkan ke Presiden dan akan dirapatkan khusus di tingkat pusat,” ujarnya saat memimpin Rapat Pengendalian Inflasi yang diikuti Pemerintah Kota Padang Panjang via Zoom Meeting di Aula VIP Balai Kota, Senin (15/5).

Sementara dari Padang Panjang rapat diikuti Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Sonny Budaya Putra, A P, M.Si bersama Forkopimda, dan instansi terkait.

Kemudian Mendagri Tito juga memaparkan kondisi inflasi di Indonesia pada bulan lalu berada diangka 4,33 persen. Terutama tarif angkutan udara menjadi penyumbang inflasi paling signifikan.

Tito juga menyebutkan, “Ini memerlukan penanganan Pemerintah Pusat terutama Kementerian Perhubungan,” katanya.

Menurutnya, tarif transportasi seperti avtur dan kargo seharusnya bisa diatur pemerintah, bukan berdasarkan mekanisme pasar. Ia menyebut harga avtur di Indonesia bahkan lebih tinggi daripada di Singapura.

Adapun hal ini disebabkan distribusi avtur yang masih memerlukan transportasi untuk memindahkan avtur dari satu daerah ke daerah lainnya.

Sementara itu laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan ada 10 daerah yang alami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) tertinggi. Khusus di Pulau Sumatera termasuk di dalamnya Kabupaten Sijunjung.

Sedangkan komoditas utama yang mempengaruhi kenaikan IPH diantaranya bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Namun sebaliknya komoditi yang mempengaruhi penurunan IPH yaitu cabai merah, cabai rawit dan beras.

Sementara itu Kabag Perekonomian dan Sumberdaya Alam Setdako, Putra Dewangga, S.S, M.Si menyampaikan, pada April lalu Sumatera Barat termasuk lima tertinggi penyumbang inflasi. Namun tidak ada kabupaten dan kota di Sumbar yang masuk 10 besar inflasi tertinggi pada bulan itu.

Sedangkan untuk Kota Padang Panjang, berdasarkan informasi dari Kepala BPS Padang Panjang, Arius Jonaidi, IPH untuk minggu kedua Mei ini minus 1.600 atau terjadi penurunan. Komoditi utama yang berkontribusi untuk penurunan ini adalah cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

Kemudian dikatakan Putra, hasil pemantauan harga minggu II Mei, ada 20 komoditas mengalami fluktuasi harga. Sebanyak 13 komoditas mengalami kenaikan harga dan tujuh lainnya mengalami penurunan harga.

Dia juga mengatakan, “Sebagian besar berfluktuasi ringan dan tidak mempengaruhi stabilitas transaksi di Pasar Pusat Padang Panjang,” pungkasnya.(R.A)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *