NASIONAL

Pengamat harus independen, mempertanggungjawabkan statemen dia karena pengamat bukan patung

69
×

Pengamat harus independen, mempertanggungjawabkan statemen dia karena pengamat bukan patung

Sebarkan artikel ini

Kalian pasti kenal dong dengan Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya. Mendadak, dia pamit untuk tidak menggunakan media sosialnya alias nonaktif sementara. Aneh memang, padahal dia terbilang sangat aktif berkomentar di media sosial, termasuk terkait isu perpolitikan Indonesia jelang Pilpres 2024.

“Saya izin pamit tidak bermain socmed (social media) dulu sementara waktu. Semoga pemilu betul-betul bisa berjalan sesuai dengan cita-cita demokrasi yang kita gaungkan bersama saat reformasi. Maaf kalau kemarin-kemarin ada twit saya yang membuat sebagian tidak berkenan,” ujar Yunarto.

Why? Di kolom komentar, banyak yang bilang mungkin dia sedang ditekan atau diintimidasi. Tapi sampai saat ini tidak ada yang tahu persis penyebabnya.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengakui banyaknya tekanan dari pihak lain, mulai dari kader partainya Adian Napitupulu hingga Yunarto Wijaya. dia tidak secara gamblang menjelaskan siapa pihak lain yang dia maksud. Dia juga tak menjelaskan dengan detil tekanan seperti apa yang mereka terima.

“Ya tekanan ada, ya apalagi ini juga berkaitan kalau kita lihat ya Mahkamah Konstitusi aja bisa diintervensi padahal lembaga yudikatif. Apalagi yang lain bahkan kita lihat kan sebelumnya Yunarto Wijaya, kemudian ada Saudara Ulin, kemudian Adian, saya, jadi berbagai signal-signal itu sudah ada,” kata dia.

Berarti memang benar ada tekanan dari pihak lain. Agak mencurigakan, karena di saat Yunarto sedang giat-giatnya bersuara soal polemik di negara ini, tiba-tiba minta ini istirahat main medsos. Terlalu mendadak dan mencurigakan apalagi tidak disertai dengan alasan jelas.

Terlepas dari apapun alasannya, ini cukup mengkhawatirkan. Apalagi belum lama BEM UI juga mengaku keluarganya dapat intimidasi, kan?

Apakah sudah begitu parah situasi politik negara ini? Kepanikan yang terjadi malah berbuah jadi tekanan supaya diam dan tidak bersuara. Apakah ini yang dinamakan demokrasi? Apakah ini yang dinamakan politik riang gembira, santun dan santuy yang digaungkan oleh partai kecil yang mungkin balihonya ngalah-ngalahin jumlah minimarket se-Indonesia?

Saya tidak habis pikir, tapi inilah kenyataannya. Tidak senang, langsung makin tekan. Tidak puas, langsung intimidasi. Merasa terjepit, lalu laporkan.

Kebenaran tidak akan pernah bisa ditahan apalagi ditutupi. Kebenaran itu kayak air, yang percuma saja ditahan. Tetap akan mencari jalan lain untuk mengalir. Semua itu tidak ada artinya jika rakyat makin muak dan kemudian memutuskan bersatu untuk menghentikan kegilaan ini.

Itulah gambarannya sebelum pemilu.

Sumber: FB Susi Suzana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *